Disclaimer: Artikel ini tidak berfungsi sebagai referensi yang tepat dan lengkap, jika ada informasi yang kurang tepat dapat menghubungi penulis. Penulis tidak dibayar oleh pihak manapun untuk membuat tulisan ini, dan tidak dalam pengaruh pihak manapun maupun mewakili pendapat pimpian tempat kerja penulis saat ini

Seru kan lihat semua orang jualan private cloud. Kenapa pada jualan private cloud? Basically yang jualan private cloud ini adalah vendor server dan vendor operating system yang memiliki kekhawatiran kalau semua orang akan buang seluruh sistem IT nya ke cloud.

Vendor cloud terbesar di dunia ada tiga: Amazon AWS, Google Cloud Platform, dan Microsoft Azure. Lainnya sih ada, tapi nggak semasif tiga orang itu. Dan kalau baca Product & Services yang mereka kasih, itu banyaaaaaak banget. Dan mereka punya sekian banyak resources utk memberikan layanan yang kita perlukan. Semuanya indah sih, sampai kita terima tagihannya. Kalau kita bisa bayar, ya masihlah indah.

Untuk melawan juggernaut yang buesar dan guede itu (maaf saya orang Surabaya, sudak menggunakan huruf 'u' diantara dua huruf untuk memberikan penekanan), maka vendor server dan operating system mengubah cara penjualan mereka bukan lagi menjadi jualan server, atau jualan operating system (& license nya), namun berjualan private cloud. Private cloud adalah infrastruktur cloud computing yang dipasang di datacenter tersendiri.

Dan tak lupa satu istilah lagi: hyperconvergence. Basically ini solusi sapu jagat utk enterprise yang sudah pusing mengurusi tiga sokoguru private cloud: server, storage, dan network. Vendor-vendor ini berhasil mengemas dalam satu paket yang cantik dan dilabeli sebagai hyperconvergence. Cukup cantik, sampai salah satu vendor hyperconvergence Simplivity (sekarang diakusisi HP Enteprise) menjadi cameo dalam serial Silicon Valley season ketiga di HBO. Server yg dibuat oleh Pied Piper itu menggunakan server Simplivity.

Siapa aja sih pemainnya? dan arah jualan mereka itu ke mana? Mari kita lihat. BTW ini teknologi Enterprise ya utamanya, bukan ke service provider atau content provider.

VMWare

  • Jualan vSphere & vCenter, jadinya punya platform virtualisasi & orchestration
  • Gak punya storage, dan tergantung ama vendor storage FC (Fibre Channel) dan iSCSI SAN, maka mereka akhirnya berhasil bikin distributed clustering storage bernama VSAN (Virtual SAN)
  • Mereka tahu untuk bikin platform mereka lengkap, mereka tinggal menggenapkan teknologi Networking yang belum ada di mereka. Hasil mengakusisi Nicira bikinan si Martin Casado, maka akhirnya mereka bisa jualan VMware NSX sebagai solusi network virtualization di platform vSphere mereka
  • Mereka nggak punya server sendiri, jadi mereka kerjasama dengan beberapa vendor utk membuat sebuah HCL (Hardware Compatibility List) serta VSAN Ready Nodes, yaitu daftar server-server dari berbagai vendor yang bisa dipasangi VSAN dengan optimal. Tapi paling rapat mereka ya dengan Dell, sebab VMware ini adalah anak perusahaannya (maaf kalau salah istilah) nya Dell/EMC. Ini yang jadi solusi Hyperconvergence Dell/EMC/VMware.
  • VMware ini saat ini musuhnya cuma satu secara umum: vendor-vendor lainnya yang nggak mau pakai teknologi private cloud & virtualisasi VMware karena ingin mencari margin yang lebih baik. Maka vendor selain VMware (dan juga Microsoft) pasti menggunakan solusi opensource bernama OpenStack. Mereka kembangkan sendiri dengan resep dapur yang berbeda-beda, untuk memikat berbagai industri.

Microsoft

  • Mereka cuma punya Windows Server, yang mulai ditinggalkan orang (pada pindah ke Linux semua) kecuali orang enterprise yang sudah invest ke teknologi Microsoft .NET.
  • Akhirnya dengan CEO yang baru Satya Nadella, mereka berhasil mereposisi diri mereka menjadi berjualan public Cloud dengan Microsoft Azure. Nampaknya Azure ini cukup sukses untuk memindahkan infrastruktur enterprise yang males ngurusin Microsoft Active Directory mereka ke dalam cloud. Cuma tahu beres, tinggal bayar. Lalu untuk aplikasi Office, orang tinggal disuruh berlangganan Office 365, sudah dengan MS Exchange, Skype For Business (dulu namanya Lync), OneDrive storage, pokoknya semua barang yang susah diinstall itu akhirnya bisa dibuang ke cloud, tinggal bayar. Enak kan?
  • Hasil dari ngurusin Azure itu maka teknologi Azure mulai dibawa satu-satu ke Windows Server. Platform Hyper-V virtualisasi mereka akhirnya jadi cukup beres setelah beberapa lama, termasuk teknologi Storage dan Network Virtualization nya. Akhirnya Microsoft mulai bisa meyakinkan orang yg masih pakai Windows Server untuk bertahan menggunakan Windows Server, apalagi sekarang sudah support Container.
  • Hmmm apalagi ya? Saya sih cuma tahunya Microsoft ini enaknya pakai semuanya yg ada di cloudnya dia, kalau masih setia pakai teknologinya dia. Ya setidaknya seluruh Office 365 dan Active Directorynya itu.

Linux KVM

  • Virtualisasi di Linux (FreeBSD namanya bhyve, di OpenBSD namanya vmm)
  • Basis dari teknologi OpenStack Nova
  • Disarankan belajar virtualisasi dari KVM Linux dulu, jangan nyemplung langsung ke OpenStack, apalagi Docker dan container yang makin tidak jelas itu. Ibarat kalau mau berenang musti belajar mengambang dulu, jangan tahu-tahu sudah disuruh gaya bebas, apalagi gaya dada (yang paling susah), jadinya gaya batu (tenggelam)

OpenStack

  • Private cloud untuk service provider, makanya kelihatannya belibet dan ribet, karena dia bukan untuk dipakai sendiri, tapi untuk dijual sebagai services kepada orang lain
  • Kalau mau yang seperti itu, bisa coba CloudStack atau OpenNebula, atau VMware vSphere sekalian

Container dan segala ketidakjelasannya

  • Pertamanya dulu ada FreeBSD Jails, Solaris Containers, lalu cgroups dan akhirnya jadilah Docker (nggak gitu juga kali)
  • Intinya orang ingin punya VM yang lebih kenceng dari VM yang disediakan oleh VMware dan KVM Linux
  • Ubuntu punya LXD, dan ada juga Docker, istilahnya LXD itu machine containers, dan Docker itu process containers
  • Machine containers itu ibaratnya kita punya sub-machine di atas machine yang kita pakai, sementara process containers itu hanya menjalankan satu process di dalam machine yang kita pakai
  • VMware pun ikut-ikutan bikin VIC (VMware Integrated Containers), yaitu dengan membuat ekosistem lightweight VM yang dikontrol oleh sebuah controller yang dapat diakses menggunakan Docker API oleh developer. Rasanya seperti Docker, tapi aslinya itu adalah lightweight VM yang kelihatan dari vSphere & vCenter
  • Jadi Docker itu apa? Mungkin nanti di artikel yang lain, saya perlu catch up dulu

Redhat

  • Dulu cukup juara dengan jualan Linux kepada Enterprise, basically memberikan jaminan bahwa Linux yang diinstall di enterprise itu nggak akan hancur karena gagal update.
  • Harga license nya lumayan, sama seperti jualan license Windows Server, jadi istilahnya pick your poison, pilih mana satu, tetap saja harganya sama
  • Lalu dia mulai jualan beberapa platform, seperti JBoss buat Java application server (asumsinya enterprise bikin aplikasi pakai Java), lalu merambah ke beberapa tempat lain, seperti Storage dgn jualan Ceph atau Gluster ya? lalu jualan OpenStack bernama RDO
  • Sejak RedHat keluarkan RHEL versi 7 yang mengadopsi systemd sebagai salah satu bagian primer dari OS RHEL ini, dan diikuti oleh beberapa distro lainnya, maka dimulailah salah satu bid'ah terbesar dalam dunia UNIX/Linux, dimana systemd bukan hanya mengganti init system di UNIX/Linux, namun sekian banyak komponen OS diganti untuk mengadopsi systemd ini, dan jadilah RHEL dan Linux lain yang mengadopsi systemd ini menjadi agak susah digunakan
  • Akhirnya take it or leave it, terpaksa kembali goblok lagi, atau meninggalkan teknologi RedHat dengan teknologi lain
  • Okelah, masih ada teknologi lain yg menarik, misal virtualisasi RHEV (yang kayaknya tractionnya kurang), atau OpenShift teknologi utk bikin PaaS (Platform as a Services) sendiri. Saya masih kurang faham dgn industri PaaS, jadi mohon maaf kalau nggak banyak bisa komentar.

Ubuntu

  • Pada awalnya Ubuntu OS
  • LXC dan LXD, dan urusannya dengan Docker
  • MAAS
  • Juju
  • Ubuntu Core
  • Ubuntu OpenStack
  • Live Update
  • ZFS on Linux
  • Nampaknya cukup seru dipakai jika kita fed up, pegel dengan solusi dari RedHat

Pecahan OpenSolaris: Joyent (Public Cloud), Illumos, OmniOS

  • Pada jaman Sun Microsystem dipegang oleh Jonathan Schwartz, dia hobi bikin teknologi Sun Microsystem dibuat open: ZFS, DTrace, dalam sistem bernama OpenSolaris
  • Semuanya indah sampai Sun Microsystem dibeli Oracle: Doomsday
  • Akhirnya software dan pakar-pakarnya pada berceceran ke berbagai tempat, salah satunya Joyent Public Cloud
  • Jagoan DTrace dan ZFS pada parkir di sana, meneruskan kembali OpenSolaris dalam bentuk lain: SmartOS
  • SmartOS ini menjadi Illumos, dan SmartOS ini menjadi building block dari software public cloud Joyent, yang akhirnya diopensourcekan bernama Joyent SmartDataCenter (SDC), dan dilanjutkan menjadi Joyent Triton

FreeBSD

  • Dari dulu sudah seperti itu, distro UNIX-like yang cukup oke untuk keperluan production server
  • Setelah tragedi systemd, sekelompok orang pengguna Linux mulai melihat FreeBSD sebagai solusi
  • ZFS - OpenZFS
  • DTrace
  • IXSystem membuat FreeNAS terbaru yg keren sebagai platform hyperconverge (sort of, FreeBSD kurang kuat main network virtualization nya), yang entah kenapa ditarik lagi dari pasar dan mengembangkan versi yang lebih stabil

Mirantis

  • Jualan distro OpenStack
  • Cukup populer

HP Enterprise (HPE)

  • Juara jualan server, ada juga storage & network
  • Mulai jualan service OpenStack Helion
  • Mengakuisisi Simplivity sebagai solusi Hyperconvergence

Juniper Networks

  • Juara jualan core router di service provider
  • Masuk main SDN dengan akuisisi siapa namanya itu perusahaan India? jadilah Contrail dan OpenContrail - SDN untuk mengontrol OpenStack di Service Provider

Cisco System

  • Juara jualan perangkat networking
  • Bikin geger jagat industri server dengan bikin UCS Server, katanya beberapa vendor server sukses bermusuhan gara-gara Cisco bikin server.
  • Bikin SDN bernama ACI
  • Akuisisi perusahaan SDN seperti Tail-f, dan beberapa perusahaan lainnya
  • Akuisisi perusahaan apa ya utk bikin Cisco Metapod sebagai solusi OpenStack dengan server Cisco UCS
  • Akuisisi perusahaan entah untuk bikin Cisco Hyperflex sebagai solusi hyperconvergence untuk menyaingi Simplivity dan VMware VSAN Ready Nodes

Brocade Networks

  • Brocade ini dulunya cuma jualan Storage Area Network (SAN) Networking technology berupa Fibre Channel Switch & Director, yang dipakai oleh orang-orang ganteng di Telco dan Oil & Gas untuk menjalankan server-server Oracle mereka yang nggak boleh mati utk nyambung ke storage mereka yg gede-gede (utk ukuran jaman dulu)
  • Lalu pada suatu ketika mereka mengakusisi perusahaan IP networking bernama Foundry yang berjualan core router, core switch, dan distribution/access switch. Jadi platform mereka lengkap: SAN & IP Networking
  • Pendekatan open networking cukup menarik, tidak ada proprietary technology, mempopulerkan OpenFlow dan BGP EVPN, dan software networking
  • Sempat mengakusisi Ruckus Wireless, tiba-tiba IP networking Brocade ini dibeli oleh Broadcom. Duar! Broadcom nggak mau teknologi non-Broadcom ada di portfolio mereka
  • Akhirnya dipecah-pecah: campus switches mereka dibeli oleh Arris, dan core router & datacenter switch mereka dibeli Extreme Networks, vRouter (ex Vyatta) dibeli AT&T Telco, serta vADC mereka dibeli Pulse Secure (perusahaan NAC yg dilepas Juniper)

Arista Networks

  • Bukan Arista yang jualan kredit motor ya
  • Kompetitor Cisco di area datacenter switch, membuat switch 10/40/100G jadi mainstream
  • Arista OS nya itu bagus utk programmability, karena isinya Linux
  • hmmm apa lagi ya

Oracle

  • Nggak tahu
  • Beli Sun Microsystem dan semua teknologinya disimpan sendiri, OpenSolaris pecah berkeping-keping, untungnya teknologi seperi ZFS, DTrace, dan Container berhasil di-salvage, diselamatkan ke tempat lain
  • Mulai memasukkan software nya (Oracle Database, Oracle Application) ke dalam cloud, dengan alasan yang nampaknya sama seperti Microsoft

Supermicro

  • Jualan server saja, walaupun ada sih jualan switch datacenter dan rack datacenter
  • Mempopulerkan beberapa teknologi server yang banyak dicontek oleh vendor lain: casing 4U isi 24 disk JBOD yang cocok dipasangi ZFS, casing 2U Twin berisi 4 server dual socket, serta power supply battery backup (BBU)
  • High density server yang lebih banyak daripada blade server

Dell

  • Sukses jualan server, akhirnya mengakuisi beberapa teknologi: storage (EMC), networking (Force10 Networks), virtualisasi (VMware)
  • Servernya cukup banyak dan cukup menarik seperti Supermicro
  • Juga bikin high density server

Cumulus Linux

  • Distro Linux, tapi untuk network switch, bukan untuk server
  • But why? Agar semua server & network nya menggunakan satu teknologi Linux dengan shell yang sama, mendukung toolchain manajemen yang sama
  • Beberapa vendor mendukung Cumulus Linux ini, seperti Dell, Edge-Core, Supermicro, Quanta, Mellanox, dan sebagainya

Mellanox

  • Vendor teknologi InfiniBand dari Israel
  • Awalnya hanya main InfiniBand saja, akhirnya main Ethernet chip
  • Solusi 10/25/40/50/100Gbps dalam satu chip, mendukung OS Cumulus Linux

Vendor Taiwan & Mainland China

  • Taiwan: Quanta, Edge-Core
  • China: Inspur, Huawei, Sangfor
  • Quanta banyak dijadikan server OEM bagi penyedia teknologi, tapi begitu juga Supermicro dan Dell
  • Edge-Core cukup menarik dengan mereka mendukung teknologi Cumulus Linux
  • Inspur walaupun nggak terlalu terkenal di Indonesia, namun dia sangat besar di China
  • Huawei sudah sama-sama tahu lah
  • Sangfor ini vendor network security, pengennya seperti Palo Alto Networks gitu

Intinya, kenapa semua vendor melakukan ini? Sebab kalau tidak begitu semua enterprise akan buang semua barangnya di cloud, mereka akan buang semua server mereka, dan networkingnya pakai Mifi 4G aja yang harganya murah dan networking di dalamnya cukup pakai Mikrotik aja :) ya setidaknya vendor core switch, distrib/access switch dan wireless network tetep bisa jualan sih. Anda kan nggak bisa konek ke Internet menggunakan telepati, anda tetap memerlukan network devices.

Dan sadarilah, yang namanya AWS, Azure, dan GCP itu resourcenya gede, nggak akan mampu enterprise biasa pamer-pamer sudah punya datacenter, padahal buat mereka bertiga itu datacenter enterprise itu cuma seujung kuku mereka saja. Belum lagi kita kelimpungan memelihara suplai listrik, genset dan solarnya, batere, dan segala kerepotan kita untuk mbangga-banggain punya datacenter yang mana rak berisi server itu tadi dalam hitungan 2 tahun saja sudah kadaluwarsa, sementara Amazon, Microsoft, dan Google (dan Facebook) itu ikutan program early release dari Intel, yang membuat mereka akan selalu mendapatkan prosesor terbaru satu tahun sebelum prosesor itu dirilis oleh Intel di pasaran. Anda sekarang tahu posisi anda di rantai makanan teknologi IT itu ada di mana.

Wassalam,