Salam,

Pada akhirnya saya direzekikan menggunakan MacBook Pro 15" Mid-2017. Beberapa kesan setelah menggunakannya selama lebih dari 3 minggu:

  • Perlunya memakai laptop ini karena MacBook Pro 15" Mid-2012 yang saya pakai sudah bermasalah, batere nya hanya bertahan 30 menit intermittent, serta speaker kiri yang bersuara rusak. Walaupun kata Marco Arment, MacBook Pro terbaik adalah MBP 2012 inilah, sebab ia memiliki balance antara performance, kelengkapan port, dengan portabiliti. Cukup ringan utk membawa semua port yang diperlukan tanpa dongle, namun cukup powerful untuk dibawa sendirian. Tapi ya begitulah apa mau dikata.
  • Tentu saja MBP 2017 ini lebih powerful daripada MBP 2012. Prosesor Core i7 Kaby Lake, GPU Radeon 460, RAM 16GB, SSD 512GB, dua kali lebih longgar daripada laptop terdahulu, no complaint, bablas lah pokoknya. Katanya juga ia memiliki support utk encode/decode HEVC 10-bit video 4K (apapun itu artinya), yang jelas ada video film 4K yang tersendat-sendat dimainkan di MBP 2012, di MBP 2017 dimainkan tanpa masalah.
  • Touchbar keren utk ditunjuk-tunjukkan kepada orang yg belum punya, namun ada beberapa aplikasi penting yg belum mendukung. Setidaknya saya bisa konfigur tombol Screen Capture utk saya pasang di TouchBar, dan mengcapture layar hanya perlu satu tombol dan enter, tertangkaplah layar tersebut, tanpa perlu saya pakai shortcut yg susah
  • Orang komplen dengan tombol "Escape" yang posisinya agak digeser ke kiri. Maklum ya Apple ini orangnya berestetika tinggi, ini karena menyamakan posisi tombol TouchBar terkini di sebelah kanan yg tergeser dgn tombol Power/TouchID
  • Kalau ingin mengembelikan tombol fungsi F1-F10 (di Apple nggak ada F11-F12) maka pencet tombol "fn" di sebelah kiri bawah, nanti TouchBar nya akan keluar tombol seperti biasa. Kalau pakai software Parallels Desktop versi terbaru, maka ketika menjalankan Windows 10 maka semua tombol fungsi Windows akan keluar, mulai dari F1-F12, Ins-Del-PgUp-PgDown, sampai Break-PrtScr dan ScrLock. Jadi semua tombol itu sebenarnya tersedia
  • Kalau pakai Terminal, TouchBar ada tombol "man pages", kalau kita mengetik sebuah perintah UNIX, maka pencet tombol tersebut, maka man pages untuk perintah tadi akan tersedia
  • TouchID keren, ganteng banget login bisa pakai sidik jari seperti halnya iPhone 7 Plus yg saya pakai. Bukan hanya login, namun beberapa akses seperti priviledge escalation dan membeli app di App Store, bisa diverifikasi dengan TouchID. Bahkan sudo di Terminal pun bisa diverifikasi dengan TouchID.
  • Trackpad gede sih nggak kerasa efeknya, tapi palm rejection cukup oke. Trackpad nya pakai ForceTouch, seperti tombol Home button iPhone, yang dia bukan mekanik, tapi menggunakan Haptic Feedback, jadi dikontrol oleh software, bukan mekanik. Ginian pun biasanya ada yang komplain, tapi itulah gayanya Apple, suka mencari berbagai komponen fisikal yang bisa diganti ke software controlled system, jadi total keseluruhan perangkat bisa lebih tipis
  • Keyboard silakan komplain lah kalau sudah biasa pakai clicky keyboard. Tapi keyboard MBP 2017 lebih baik keyboardnya daripada MBP 2016. Kalau dipakai mengetik cepat jadinya bersuara sangat berisik, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa pemiliknya punya laptop baru. Mirip seperti MacBook 2017 yang keyboardnya lebih baik daripada MacBook 2015. Dan itu sesuai dgn pakem kalau kita beli barang Apple: jangan pernah beli barang Apple generasi pertama, adaaa aja masalahnya
  • Kalau pernah pegang MBP 2012 sd 2015, anda bakal merasakan kalau laptop MBP 2017 ini lebih ringan, lebih simetris, lebih sleek gitu, tapi mengorbankan fungsionalitas, menjadikan hidup lebih berdongle.
  • Warna Space Gray menunjukkan bahwa ini laptop Apple baru, agar semua mata melihat.
  • Speaker dua buah kiri dan kanan suaranya besaaaar. Keras banget kalau disetel ke volume maksimum.
  • Logo Apple di layar tidak menyala, jadi mirip iPad yang gede banget, sayangnya layarnya nggak touch screen.
  • Layarnya keren sih seperti biasa. Katanya support color map yg lebih lebar daripada display biasa, berguna bagi photo editor.
  • Colokan charger bisa pilih di mana saja, di sisi kiri atau kanan laptop, enak kalau kabelnya kurang panjang
  • 4 port Thunderbolt 3 USB-C sebagai satu-satunya data IO di MBP 2017. Kemungkinan terkeren penggunaan TB3 adalah interface satu kabel yang dapat dipakai sebagai akses display dengan resolusi sampai 2 x 5K, dan pemanfaatan EGPU (External GPU) agar MBP 2017 ini dapat menjalankan game dan Virtual Reality (VR) dengan memanfaatkan GPU terkini: NVidia atau Radeon. Silakan buka http://egpu.io untuk informasi lebih lanjut. TB3 juga keren jika dipakai dengan TB3 Dock, sehingga anda dapat memanfaatkan berbagai interface dan menghubungkannya ke MBP 2017 hanya dengan satu kabel TB3.
  • And here comes the dongle life. 4 port Thunderbolt 3 USB-C ini bisa dipakai utk berbagai hal: power charging, USB, Display VGA/HDMI, Ethernet, intinya semua hal yang dulunya tersedia built-in di MBP 2012 kini harus dicari donglenya.

Jika anda pertama kali punya barang ini, alat pertama yg harus anda miliki adalah converter USB-A to USB-C, yg satuannya cukup murah, 50rb an sebiji. Gunakan itu sebagai dongle darurat utk menyambungkan periferal USB anda, terutama USB flashdisk & USB harddisk external.

Setelah itu, anda harus segera mencari dongle darurat kedua, yaitu dongle VGA, terutama jika anda akan segera memakai laptop ini untuk presentasi. Sayangnya dongle VGA buatan Apple harganya nggak sekolah (1,6 juta utk USB-A dan VGA), maka silakan cari dongle USB-C buatan Dell DA200, dengan harga 1 juta anda mendapatkan USB-A, VGA, HDMI, dan Ethernet.

Jika anda sering menggunakan harddisk external, anda perlu mencari kabel USB-C to USB-B utk harddisk external. Atau carilah USB-C hub USB 3.1 yang cukup bagus. Setidaknya seluruh kabel USB-A existing jadi masih bisa dipakai.

Oh iya saya lupa. Sebagai bonus, belilah USB flashdisk dengan dua interface, misalnya merek SanDisk dengan USB-C dan USB-A. Jadi anda tidak terlalu susah untuk kopi-kopi file ke laptop lain utk masuk ke MBP 2017. Memang sih harganya lebih mahal daripada flashdisk biasa, namun tidak ada pilihan lagi.

Ada beberapa kabel yang tidak perlu anda beli jika anda sudah punya 3 dongle ini:

  • USB-C to Lighting ke iPhone/iPad: harganya mahal, dan biasanya anda pakai cuma sekali-sekali
  • USB-C to microUSB: kecuali anda pakai handphone Android, kabel ini sesekali masih berguna, tapi kalau pakai iPhone, ia nggak ada gunanya
  • USB-C to USB-C data/power: jika anda pakai handphone Android yang pakai port USB-C.

Peringatan: Kabel USB-C to USB-C charger MacBook Pro tidak bisa dipakai utk koneksi data. Cuma untuk charge MBP saja.

Dan ada beberapa hal yang perlu dilakukan dengan laptop baru ini, terutama dengan macOS High Sierra terbaru:

  • Jalankan perintah untuk mematikan SPI, csrutil disable. Sekian puluh permasalahan kegagalan instalasi & menjalankan aplikasi selesai dgn perintah ini,
  • High Sierra menggunakan file sistem baru bernama APFS, maka gunakan tools terbaru yang mendukung APFS.
  • Jika anda memakai harddisk/flashdisk dgn filesystem NTFS, baiknya anda membeli lisensi Paragon NTFS dan memasang Paragon NTFS terkini yg mendukung APFS. Sebelumnya saya pakai Tuxera NTFS dan entah kenapa problem terus dengan harddisk external saya, akhirnya dengan Paragon NTFS berlisensi (yang harganya lebih murah, USD20, sementara Tuxera USD31) masalah saya selesai.
  • Beberapa aplikasi jadi agak susah diinstall, terutama aplikasi yang mengakses kext (Kernel Extension), contohnya VMware Fusion yang harus dioprek terlebih dahulu. Setelah sekian lama masalahnya nggak selesai, akhirnya saya putuskan untuk VM Windows saya pindahkan ke Parallels Desktop, dan VM Linux/BSD saya pakai VirtualBox.

Beberapa kekurangan setelah meninggalkan MBP 2012 menjadi MBP 2017:

  • Tidak bisa lagi pinjem charger laptop milik kawan yang masih pakai MBP 2012-2013-2014-2015.
  • Donglelife. Pastikan bawa dongle ke mana-mana.
  • Colok ke layar HDMI saja perlu dongle, kalau dulu ketemu TV dgn kabel HDMI bisa langsung konek
  • Mau bikin SD/microSD untuk instalasi Raspberry Pi saja perlu dongle, sebelumnya cukup colok di slot sebelah kanan
  • Dongle TB2 existing: VGA dan Ethernet jadi menganggur, padahal dulu belinya harganya lumayan, 500rb an
  • Colokan charger nggak magnetik (MagSafe) lagi, tidak terlihat laptop belum/sudah tercharge penuh dari colokannya

Akhirnya setelah melewati masa-masa transisi yang cukup lumayan, saya dapat menggunakan laptop ini untuk menjalani 3 tahun ke depan dengan laptop yang handal dan mudah-mudahan tidak ada masalah selama masa hidupnya, aamiin.